BAHAN MAKANAN TAMBAHAN (food
additive)
Oleh: Ahmad v. Denfer
(Jerman)
Oleh: Ahmad v. Denfer
(Jerman)
Sebuah ungkapan menyatakan "Manusia itu tergantung dari apa yang dimakan"
Bagaimanapun juga tak dapat disangkal atau diragukan lagi bahwa makanan
yang sehat dan menyehatkan berhubungan dengan hidup yang sehat. Dengan
dasar ini, orang mulai g banyak menyibukkan diri dan memberi perhatian
yang besar terhadap susunan bahan pangan umumnya dan bahan makanan pada
khususnya. Salah satu bab atau bagian yang cukup perlu mendapat perhatian
adalah "Bahan Makanan Tambahan". Bahan-bahan tersebut biasanya dan
seharusnya tertera pada kemasan-kemasan bahan makanan bersama susunan bahan
lainnya yang digunakan untuk memproduksi bahan makanan tersebut.
Di negara-negara Eropa yang tergabung dalam masyarakat Ekonomi Eropa dikenal
dengan singkatan " E-nomor".
Sejak tahun 1986 di negara-negara Eropa yang tersebut di atas berlaku
"Petunjuk Penyusunan Bahan Makanan". Hal ini memberi titik terang
dalam kegelapan, karena saat ini orang sudah dapat menilai sendiri, apakah
produk makanan tersebut sesuiai dengan syarat-syarat dan peraturan yang
berlaku atau tidak, dapat dikonsumsi sesuai aturan kesehatan atau tidak
dan seterusnya.
Sehubungan dengan pertanyaan di atas, kita sebagai umat Islam yang percaya
akan makanan yang diijinkan Allah (halal) dan apa-apa yang dilarang (haram),
perlu memberi perhatian yang besar pada hal tersebut yaitu bahan makanan
tambahan mana yang dapat digolongkan pada ke dua hal tersebut di atas,
dan mana pula yang belum jelas dalam pemakaiannya. Sejauh ini masih
banyak ketidakjelasan dari bahan-bahan dasarnya yang belum terungkapkan.
Di negara-negara yang tergabung dalam MEE dikenal lebih dari sekitar
300 jenis bahan makanan tambahan yang telah diberi simbol "E-nomor", dan
masih banyak lagi yang belum mendapatkan simbol tersebut. Beberapa bahan
makanan tambahan tersebut tidak saja berasal dari Bundes Republik Jerman
saja, tetapi juga dari bahan-bahan makanan impor dari negara-negara MEE
lainnya dan di luar negara-negara MEE. Dari beberapa jenis
yang telah diberi simbol, ternyata ada beberapa yang dapat digolongkan
pada substansi atau zat yang haram atau yang masih belum jelas (syubhat),
yaitu sekitar 35 zat (sekitar 10 % Bahan makanan tambahan yang telah diberi
simbol). Adapün sisanya sekitar 90 % dapat berlaku hal "Apa
yang tidak dilarang, maka diijinkan untuk digunakan/dimakan".
Dari beberapa informasi yang disampaikan, mungkin akan menimbulkan
berbagai macam tanggapan dan kritik. Akan tetapi jika kita kembali
bahwa yang kita tuju hanyalah mendapat "keridhloan Allah" semata, maka
akan menolong umat Islam untuk mengetahui lebih jauh akan makanan yang
bagaimana yang dikonsumsinya, karena AlLah SWT memberikan pada kita kemungkinan
untuk membedakan yang mana yang halal dan haram.
Jika ada yang ingin mengetahui lebih jauh mengenai gambaran bahan makanan
tambahan dan beberapa resiko penyakit yang dapat ditimbulkannya, dapat
membacanya dari buku karangan Maurice Hanssens :The New E for Additives,
Thorsons Pub. Wellingborough, 1987 (ISBN 0-7225-1562-6).
Salah satu informasi umum tentang bahan makanan tambahan dapat juga
diperoleh secara cuma-cuma brosur dari Pusat Lembaga Konsumen
yaitu " Informasi Konsumen Nomor 1135 : Die Zutaten Liste (Daftar Bahan
Makanan), Bonn 1987"
Sebuah daftar lainnya yang menunjang tulisan Maurice Hassens dan
ditulis dalam bahasa Inggris adalah "Haram Additives" yang dikeluarkan
The Brigton Islamic Mission. PO BOX 234, Brighton, England.
Sebagai penutup kami memohon kepada para pembaca artikel ini, pengetahuan
anda mengenai bahan makanan dan bahan makanan tambahan dapat memberi masukan
dan sumbangan pemikiran yang lebih jauh untuk memperjelas hal-hal yang
masih gelap ataupun belum jelas.
ABC BAHAN MAKANAN TAMBAHAN
Alkohol. pada beberapa bahan makanan ada yang sengaja ditambahkan, akan
tetapi sering tidak dikenali adanya zat tersebut (contohnya : pada beberapa
es krim, macam-macam cake, bolu, tart, kue-kue dan praline, pada bahan
pengharum kue, saurkrat dll) demikian pula pada tembakau dan obat-obatan,
antara lain obat tidur berbentuk cair, obat penguat (tonikum) dan beberapa
obat lainnya dalam bentuk cair. Akan tetapi beberapa bahan di atas
dapat diatasi dengan beberapa bahan serupa tanpa beralkohol.
Bahan Pengikat
Emulgator (Zat pengemulsi), menyatukan zat-zat yang sulit bersatu (contohnya : air dan minyak). Lecitin adalah jenis emulgator yang banyak dikenal. Akan tetapi ada pula emulgator lain yang ditambahkan pada bahan makanan, dan bahan ini tidak jelas dari substansi apa dan bagaimana dihasilkannya (diprosuksi). Lemak-lemak hewani (sapi atau babi) pada umumnya yang sering menjadi bahan dasarnya, oleh karena itu disarankan untuk berhati-hati, untuk semua bahan makanan tambahan yang berlabel "emulgator".
Lecitin (E 322) adalah suatu jenis emulgator, yang berasal dari nabati (kedele, kacang atau jagung), tetapi dapat juga dari bahan hewani (terutama ayam dan sejenisnya). Tetapi bila terbaca emulgator Lecitin berasal dari kedelai (soy Lecitin), maka tidak ada keraguan terhadapnya.
Mono dan Diglycerida (E 471 dan E472) adalah emulgator dari bahan yang belum dapat dipastikan.
Emulgator (Zat pengemulsi), menyatukan zat-zat yang sulit bersatu (contohnya : air dan minyak). Lecitin adalah jenis emulgator yang banyak dikenal. Akan tetapi ada pula emulgator lain yang ditambahkan pada bahan makanan, dan bahan ini tidak jelas dari substansi apa dan bagaimana dihasilkannya (diprosuksi). Lemak-lemak hewani (sapi atau babi) pada umumnya yang sering menjadi bahan dasarnya, oleh karena itu disarankan untuk berhati-hati, untuk semua bahan makanan tambahan yang berlabel "emulgator".
Lecitin (E 322) adalah suatu jenis emulgator, yang berasal dari nabati (kedele, kacang atau jagung), tetapi dapat juga dari bahan hewani (terutama ayam dan sejenisnya). Tetapi bila terbaca emulgator Lecitin berasal dari kedelai (soy Lecitin), maka tidak ada keraguan terhadapnya.
Mono dan Diglycerida (E 471 dan E472) adalah emulgator dari bahan yang belum dapat dipastikan.
Bahan Pengembang , pada umumnya tanpa hal-hal
yang meragukan. Beberapa bahan pengembang yang biasa digunakan seperti
Natrium karbonat, Kalium karbonat, fosfat dsb. merupakan mineral-mineral
atau bahan kimia sintetis.
Gelatin, dihasilkan dari tulang-tulang
hewani dan jaringan-jaringan pengikat hewani yang merupakan bagian-bagian
terbuang (sisa) dari pemotongan hewan. Dalam hal pemotongan hewan
ini, babi (di Jerman) menduduki ranking cukup tinggi. Sedangkan gelatin
tidak hanya dipakai sebagai bahan makanan tambahan saja, tapi juga sebagai
bahan dasar makanan seperti halnya agar-agar sebagai bahan dasar pembuatan
kue,, permen dsb. Oleh karena itu, haruslah diperhatikan dengan baik
makanan yang hendak dimakan, bukan saja bahan tambahan sebagai pembuat
gelnya, tetapi juga bahan utamanya, seperti marmelade (harus betul-betul
bebas dari gelatin. Sebagai pengganti misalnya pektin (dari tumbuh-tumbuhan).
Pati Termodifikasi adalah pati yang dihasilkan
dati tumbuhan. Keterangan "termodifikasi" hanya karena mengalami
perubahan secara kimiawi dari bentuk pati biasa.
Bahan Penyedap rasa, dalam suatu pengertian
yang luas dihasilkan dari beraneka ragam bahan dasar hewani, akan tetapi
bahan tersebut masih belum jelas, jika tak ada petunjuk yang khusus.
Bahan Penstabil, (stabilisator), dalam
suatu pengertian yang luas, bahan ini merupakan bahan pengental, bahan
pembuat gel dan juga emulgator (bahan pengemulsi). Jika tidak ada
keterangan yang jelas, harus berhati-hati pula (contohnya : pada beberapa
jenis permen karet)
Bahan Pengasam, adalah berasal dari bahan
bukan hewani.
Lemak Hewani tidak hanya butter (yang berasal
dari susu sapi) tapi juga banyak lemak hewani lain yang tak dapat digunakan
karena berasal dari babi (contoh : lemak/gemuk babi, .....)
Bahan Pemisah jika tidak ada keterangan
lebih lanjut, dapat berasal dari bahan hewani
Bumbu-bumbu selain dari tanaman, dapat juga mengandung dari bahan berasal
dari hewani
BEBERAPA CONTOH BAHAN MAKANAN TAMBAHAN
Bahan Pewarna
E 120 Karmin, asam karmin, bahan pewarna merah alami dari semacam kutu tumbuhan, yang dilarutkan dalam alkohol
Bahan Pewarna
E 120 Karmin, asam karmin, bahan pewarna merah alami dari semacam kutu tumbuhan, yang dilarutkan dalam alkohol
E 140 Khlorofil sesungguhnya merupakan bahan pewarna alami dari hijau
daun, tetapi juga menggunakan asam lemak dan fosfat dari bahan yang belum
jelas
E 141 Khlorofil yang berikatan dengan Cu (tembaga) adalah bahan yang
dipilih dari E 140
E 161 (b) Lutein, turunan Karotin yang diperoleh bersama dengan khlorofil
yang menggunakan asam lemak dan fosfat yang belum pasti asalnya.
E 161 (g) Cantaxantin diperoleh dari berbagai macam bahan hewani
Bahan Pengawet
E 252 Kalium nitrat, sendawa, suatu bahan pengawet yang luas penggunaannya,
juga diperoleh dari sisa-sisa pemotongan hewan.
Bahan Pelembab
E 422 Gliserin, Di dalam industri sering dari bahan nabati, akan tetapi
juga diperoleh dengan i minyak dan lemak yang tidak pasti.
Bahan Pengemulsi (emulgator) dan bahan Penstabil
(stabilisator)
E 430 Polioxietilen (8) Stearat, diperoleh dari lemak yang tidak jelas
(saat ini tidak digunakan lagi di Jerman)
E 431 Polyoxiethylen Stearat, sama seperti E 430 (saat ini tidak di
gunakan lagi di Jerman
E 470 Garam garam Natrium, Kalium, Kalsium dari Asam lemak makanan diperoleh
dengan bahan dasar lemak yang tidak jelas.
E 471 Mono und Digliserida dari asam lemak yang dapat dimakan menggunakan
bahan dasar dari E 422 (gliserin) atau lemak yang tidak jelas
E 472 (a) sampai E 472 (f) Mono dan digliserida lain dari asam lemak
yang dapat dimakan, berasal dari E 471
E 473 Estersukrosa dari asam lemak yang dapat dimakan, didasari
dari lemak yang tidak pasti (saat ini di Jerman tidak digunakan lagi)
E 474 Sukrogliserida di samping dari bahan lemak nabati, tetapi lemak
hewanipun masih memungkinkan, terutama lemak /gajih babi (saat ini di Jerman
tidak digunakan lagi)
E 475 Esterpoligliserine dari asam lemak yang dapat dimakan, dengan
didasari dari E 471
E 476 Esterpoligliserol dari asam lemak dari minyak jarak (kastroli).
Walaupun berasal dari bahan nabati, akan tetapi digunakan juga E 422 (gliserin)
(saat ini di Jerman tidak digunakan lagi)
E 477 Esterpropilenglikol dari asam lemak yang dapat dimakan juga dengan
di dasari dari E 471 (saat ini di Jerman tidak digunakan)
E 478 Ester asamsusu dari asam lemaknya gliserin, digunakannnya E 422
(saat ini di Jerman tidak digunakan)
Bahan Pemisah
E 542 Fosfat tulang yang dapat dimakan berasal dari segala macam tulang-tulang
hewan
Bahan Penyedap rasa
E 631 Natriuminosianat, diperoleh dari berbagai macam ekstrak daging
E 635 Natrium-5`-ribonukleotid, didasari dari E 631 (saat ini di Jerman
tidak digunakan lagi)
Bahan Pelapis
E 913 Wollfett (lanolin) berasal dari bahan hewani
Bahan Tambahan Tepung
E 920 L-Cystein, L-Cystein Hidrokhlorida, diperoleh dari kulit, bulu
hewan atau rambut manusia
Bahan bahan tambahan makanan yang belum
jelas
E 153 Karbo medicinalis, arang dari bahan dasar tumbuhan tetapi tidak
tertutup kemungkinan dari bahan hewani
E 160 (a) ?/?/ ??- Karotin berasal dari bahan nabati, tetapi belum jelas
apakah minyak dan bahan penstabilnya murni dari bahan nabati
E 161 (a) Flavoxantin didasari dari E 160 (a)
E 432 sampai E 436 Polisorbat belum jelas dari bahan dasar apa (saat
ini di Jerman tidak digunakan)
E 491 Sorbitanmonostearat didasari dari E 570 (asam stearat) (saat ini
tidak digunakan lagi di Jerman)
E 492 Sorbitantristearat didasari dari E 570 (saat ini tidak digunakan
lagi di Jerman)
E 494 Sorbitanmono-oleat adalah bahan sintetis, tetapi juga belum jelas
apakah tidak tercampur dengan lemak yang belum pasti (saat ini tidal lagi
digunakan di Jerman)
E 570 Asam Stearat sama seperti E 494
E 572 Magnesiumstearat dengan bahan dasar E 570
E 632 Kaliuminosinat kemungkinan sama dengan bahan dasar E 631 (natriuminosinat)
E 921 L-Cystin kemungkinan seperti E 920 (L-cystein)
KESIMPULAN
Paling tidak sekitarr 300 Bahan Tambahan Makanan untuk para muslim bersifat
tidak mengkuatirkan atau meragukan (hanya sekitar 10 % saja yang meragukan),
tetapi hal ini dapat diterima jika tidak memperhatikan segi kesehatan dari
penggunaan Bahan Makanan Tambahan tersebut. Suatu perkecualian
yang agak menonjol dari semua adalah bahan-bahan Emulgator (bahan pengemulsi).
Selanjutnya untuk beberapa bahan yang meragukan kita dapat memfotokopi
tabel kecil di bawah ini, dan membawanya bila berbelanja, sampai kita hafal
sedikit E-Nomor yang disangsikan tersebut, sehingga kita dapat memilih
bahan pangan yang bagaiman yang perlu ditinggalkan.
Sumbangan pemikiran di atas hanya sekitar bahan makanan tambahan.
Informasi selanjutnya tentang halal dan haram dari makanan, insyaallah
pada artikel yang lain.
DALAM BERBAGAI HAL HARUS DIHINDARI
Alkohol Gelatin
HATI HATI (MERAGUKAN) bila tak ada keterangan lebih lanjut (keterangan yang jelas)
Bahan pengemulsi (emulgator) Bahan Penyedap rasa Stabilisator(Bahan penstabil)
Lemak hewani Bahan pemisah Bumbu-bumbu
Alkohol Gelatin
HATI HATI (MERAGUKAN) bila tak ada keterangan lebih lanjut (keterangan yang jelas)
Bahan pengemulsi (emulgator) Bahan Penyedap rasa Stabilisator(Bahan penstabil)
Lemak hewani Bahan pemisah Bumbu-bumbu
E 120 karmin, cochenille
E 140 Khlorofil
E 141 Khlorofil yang berikatan dengan tembaga
E 153 Karbo medicinalis
E 160 (a) alpha/beta/gamma - Karotin
E 161 (a) Flavoxantin
E 161 (b) Lutein
E 161 (g) Cantaxantin
E 252 Kaliumnitrat, salpeter
E 422 Glyserin
E 430 Polioxietilen (8) stearat
E 431 Polietilen stearat
E 432 -436 Polisorbat
E 470 - E 478 Garam dari Mono dan Digliserida, ester dati asam lemak yang dapat dimakan
E 491 Sorbitanmonostearat
E 492 Sorbitantristearat
E 494 Sorbitan mono- oleat
E 542 Fosfat tulang
E 570 asam tearin
E 572 Magnesium stearat
E 631 Natriuminosinat
E 632 Kaliuminosinat
E 635 Natrium-5`-ribonucleotid
E 913 Lanolin
E 920 L-Cystein, -hidroclorid
E 921 L-Cystin
E 140 Khlorofil
E 141 Khlorofil yang berikatan dengan tembaga
E 153 Karbo medicinalis
E 160 (a) alpha/beta/gamma - Karotin
E 161 (a) Flavoxantin
E 161 (b) Lutein
E 161 (g) Cantaxantin
E 252 Kaliumnitrat, salpeter
E 422 Glyserin
E 430 Polioxietilen (8) stearat
E 431 Polietilen stearat
E 432 -436 Polisorbat
E 470 - E 478 Garam dari Mono dan Digliserida, ester dati asam lemak yang dapat dimakan
E 491 Sorbitanmonostearat
E 492 Sorbitantristearat
E 494 Sorbitan mono- oleat
E 542 Fosfat tulang
E 570 asam tearin
E 572 Magnesium stearat
E 631 Natriuminosinat
E 632 Kaliuminosinat
E 635 Natrium-5`-ribonucleotid
E 913 Lanolin
E 920 L-Cystein, -hidroclorid
E 921 L-Cystin
Disadur oleh Mira S.
dari naskah "Lebensmittel-zusatzstoffe"
dari naskah "Lebensmittel-zusatzstoffe"
karya Ahmad v. Denffer (Jerman)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar